
Pendahuluan
Pembuatan preparat mikroskop merupakan salah satu keterampilan dasar yang wajib dikuasai dalam dunia biologi, kedokteran, dan berbagai cabang ilmu laboratorium lainnya. Preparat yang baik akan menghasilkan gambaran objek yang jelas, tajam, dan informatif ketika diamati di bawah mikroskop, sedangkan preparat yang dibuat dengan sembarangan akan menghasilkan gambaran yang kabur, penuh gelembung udara, atau bahkan merusak struktur objek yang ingin diamati. Oleh karena itu, pemahaman mengenai teknik dan tahapan pembuatan preparat yang tepat menjadi hal yang sangat penting bagi siapa pun yang bekerja di laboratorium biologi.
Secara umum, terdapat dua kategori besar preparat berdasarkan cara pembuatannya, yaitu preparat basah atau sementara yang dibuat secara cepat dan sederhana, serta preparat permanen atau awetan yang dibuat melalui serangkaian proses kimiawi yang lebih kompleks dan memakan waktu lebih lama. Artikel ini akan membahas secara mendalam langkah-langkah pembuatan kedua jenis preparat tersebut beserta alat, bahan, dan hal-hal penting yang perlu diperhatikan selama proses pembuatannya.
Alat dan Bahan yang Diperlukan
Sebelum membahas langkah-langkah pembuatan preparat, penting untuk mengetahui alat dan bahan dasar yang umumnya diperlukan. Alat-alat tersebut antara lain kaca objek (object glass), kaca penutup (cover glass), pipet tetes, jarum preparat (dissecting needle), silet atau pisau tajam untuk mengiris, pinset, mikroskop, serta tisu pembersih. Adapun bahan yang diperlukan bergantung pada jenis preparat yang akan dibuat, misalnya air, larutan garam fisiologis, gliserin, berbagai jenis zat warna seperti metilen biru atau hematoksilin-eosin, alkohol dengan berbagai tingkat konsentrasi, xilol, serta bahan perekat seperti Canada balsam untuk preparat permanen.
Langkah-Langkah Pembuatan Preparat Basah (Sementara)
Preparat basah merupakan jenis preparat yang paling sering dibuat dalam kegiatan praktikum sekolah maupun perguruan tinggi karena prosesnya yang relatif singkat dan sederhana. Berikut adalah tahapan pembuatannya secara rinci.
1. Persiapan Alat dan Bahan
Langkah pertama adalah menyiapkan kaca objek dan kaca penutup dalam kondisi bersih dan bebas dari debu maupun lemak. Kaca objek dan kaca penutup sebaiknya dibersihkan terlebih dahulu menggunakan alkohol dan dikeringkan dengan tisu lensa agar tidak meninggalkan goresan.
2. Pengambilan Sampel Objek
Sampel objek yang akan diamati, misalnya sayatan tipis daun, setetes air kolam yang mengandung mikroorganisme, atau sedikit jaringan epitel, diambil menggunakan jarum preparat, pipet, atau silet. Untuk objek berupa jaringan tumbuhan, sayatan harus dibuat setipis mungkin agar cahaya mikroskop dapat menembusnya dengan baik. Teknik mengiris yang baik adalah dengan memegang silet secara miring dan melakukan gerakan menyayat satu arah secara cepat dan mantap.
3. Peletakan Objek pada Kaca Objek
Objek yang telah diambil kemudian diletakkan tepat di tengah permukaan kaca objek. Untuk objek berupa cairan, seperti air kolam atau suspensi mikroorganisme, teteskan satu hingga dua tetes cairan menggunakan pipet tepat di atas kaca objek.
4. Penambahan Media Perantara
Setelah objek diletakkan, tambahkan setetes media perantara seperti air, larutan garam fisiologis, atau gliserin di atas objek tersebut. Media ini berfungsi untuk menjaga kelembapan objek serta membantu proses pembiasan cahaya sehingga objek dapat terlihat lebih jelas di bawah mikroskop.
5. Penutupan dengan Kaca Penutup
Kaca penutup diletakkan secara perlahan di atas objek dengan sudut kemiringan sekitar 45 derajat, kemudian diturunkan secara perlahan menggunakan bantuan jarum preparat. Teknik ini bertujuan untuk mencegah terbentuknya gelembung udara di bawah kaca penutup yang dapat mengganggu proses pengamatan. Apabila terdapat kelebihan cairan yang meluber keluar dari tepi kaca penutup, kelebihan tersebut dapat diserap menggunakan tisu.
6. Pengamatan di Bawah Mikroskop
Preparat yang telah selesai dibuat kemudian diletakkan pada meja objek mikroskop dan diamati mulai dari perbesaran lemah menuju perbesaran yang lebih kuat. Pengaturan fokus dan pencahayaan perlu dilakukan secara hati-hati agar objek dapat terlihat dengan jelas dan tajam.
Langkah-Langkah Pembuatan Preparat Permanen (Awetan)
Berbeda dengan preparat basah yang hanya bertahan sementara, preparat permanen dibuat melalui proses yang jauh lebih panjang dan kompleks agar dapat disimpan dalam jangka waktu yang sangat lama. Berikut adalah tahapan umum pembuatan preparat permanen.
1. Fiksasi
Tahap pertama dalam pembuatan preparat permanen adalah fiksasi, yaitu proses pengawetan jaringan menggunakan larutan kimia tertentu seperti formalin 10 persen, alkohol 70 persen, atau larutan Bouin. Tujuan fiksasi adalah menghentikan aktivitas metabolisme sel serta mencegah terjadinya pembusukan atau autolisis jaringan, sehingga struktur sel dapat dipertahankan dalam kondisi yang mendekati keadaan aslinya.
2. Dehidrasi
Setelah proses fiksasi selesai, jaringan kemudian didehidrasi atau dikeringkan dari kandungan airnya menggunakan larutan alkohol dengan konsentrasi bertingkat, mulai dari konsentrasi rendah hingga konsentrasi tinggi, misalnya alkohol 70 persen, 80 persen, 90 persen, hingga alkohol absolut. Proses ini dilakukan secara bertahap agar tidak menyebabkan kerusakan pada struktur sel akibat perubahan konsentrasi yang terlalu drastis.
3. Penjernihan (Clearing)
Setelah jaringan bebas dari kandungan air, langkah selanjutnya adalah proses penjernihan menggunakan bahan kimia seperti xilol atau toluena. Proses ini bertujuan untuk menghilangkan sisa alkohol dari jaringan sekaligus membuat jaringan menjadi lebih jernih dan transparan sehingga siap untuk tahap infiltrasi.
4. Infiltrasi dan Penanaman (Embedding)
Jaringan yang telah jernih kemudian direndam dalam parafin cair pada suhu tertentu agar parafin dapat meresap ke dalam seluruh bagian jaringan. Setelah proses infiltrasi selesai, jaringan kemudian ditanam atau dicetak dalam blok parafin dan dibiarkan mengeras hingga membentuk blok yang siap dipotong.
5. Pemotongan (Sectioning)
Blok parafin yang berisi jaringan kemudian dipotong menggunakan alat khusus bernama mikrotom hingga menghasilkan irisan yang sangat tipis, biasanya berkisar antara empat hingga sepuluh mikrometer. Irisan tipis tersebut kemudian ditempelkan pada kaca objek menggunakan bantuan air hangat agar irisan dapat merata dan bebas dari lipatan.
6. Pewarnaan (Staining)
Setelah irisan jaringan menempel pada kaca objek, dilakukan proses pewarnaan menggunakan zat warna tertentu, seperti hematoksilin-eosin yang paling umum digunakan dalam histologi. Hematoksilin akan mewarnai inti sel menjadi biru keunguan, sedangkan eosin akan mewarnai sitoplasma menjadi merah muda. Sebelum pewarnaan dilakukan, parafin pada irisan jaringan terlebih dahulu dihilangkan menggunakan xilol, kemudian jaringan direhidrasi kembali melalui rangkaian alkohol bertingkat menurun.
7. Penutupan (Mounting)
Tahap terakhir dalam pembuatan preparat permanen adalah penutupan menggunakan bahan perekat permanen seperti Canada balsam atau resin sintetis, kemudian ditutup dengan kaca penutup. Preparat yang telah selesai dibuat kemudian diberi label berisi informasi mengenai jenis jaringan, tanggal pembuatan, serta metode pewarnaan yang digunakan, sebelum akhirnya disimpan di tempat yang kering dan bebas dari sinar matahari langsung.
Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan
Terdapat beberapa hal penting yang perlu diperhatikan agar hasil preparat yang dibuat berkualitas baik. Pertama, kebersihan alat harus selalu dijaga agar tidak terjadi kontaminasi antarpreparat. Kedua, ketebalan irisan objek harus diperhatikan dengan saksama karena irisan yang terlalu tebal akan menghalangi cahaya sehingga objek sulit diamati. Ketiga, proses penutupan dengan kaca penutup harus dilakukan secara hati-hati untuk menghindari terbentuknya gelembung udara. Keempat, konsentrasi dan urutan penggunaan bahan kimia pada preparat permanen harus dilakukan secara berurutan dan sesuai waktu yang ditentukan agar tidak merusak struktur jaringan.
Kesimpulan
Pembuatan preparat mikroskop, baik preparat basah maupun preparat permanen, merupakan keterampilan penting yang membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan pemahaman teknis yang mendalam. Preparat basah cocok digunakan untuk pengamatan cepat dan sederhana terhadap objek hidup, sedangkan preparat permanen memberikan hasil yang lebih tahan lama dan berkualitas tinggi untuk keperluan penelitian jangka panjang maupun diagnosis medis. Dengan menguasai langkah-langkah pembuatan preparat secara benar, seseorang akan mampu menghasilkan sediaan mikroskopis yang berkualitas sehingga dapat memberikan informasi ilmiah yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
PT. Anugrah Niaga Mandiri siap menjadi partner terpercaya untuk solusi alat laboratorium berkualitas.
| Our Office : | Jl. Radin Inten II No. 61A Duren Sawit |
| Phone : | 0816-1740-8900, (021) 8690-6782, (021) 8690-6783 |
| Fax : | (021) 8690 6781 |
| E-mail : | sales@anm.co.id – anugrah.niaga.mandiri@gmail.com |
| Website : | http://www.anm.co.id |

